REPUBLIKA.CO.ID, PADANG – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Putih akan menggelar diskusi panel di Padang, Kamis (12/5) mendatang, untuk menjelaskan latar belakang pendirian lembaga tersebut. “Banyak respons positif dari masyarakat yang mendukung keberadaan MUI Putih. Dengan alasan itulah, kami menggelar diskusi panel,” kata salah seorang pendiri, H.Irfianda Abidin, Senin (9/5).

Ketua Penegakkan Syariah Islam (KPSI) Sumbar itu berharap dengan digelarnya diskusi panel, umat akan semakin memahami bahwa MUI Putih memang diperlukan. “MUI Putih itu hadir untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak mampu dikerjakan MUI,” katan AHWA Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).

Menurut Irfianda, diskusi panel akan menghadirkan para peserta yang sangat terbatas, yakni sebanyak 20 peserta yang terdiri dari unsur MUI, Kementerian Agama, Pemprov Sumbar, Muhammadiyah, dan dari Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau. Lembaga MUI Putih mengangkut ke permukaan pada akhir April 2011, dicetuskan oleh sejumlah tokoh dari ormas Islam di Sumbar. Rencananya, lembaga itu akan dideklarasikan paling lambat 15 Mei 2011.

Menurut Irfianda, ada beberapa hal yang melatarbelakangi kelahiran MUI Putih, pertama melihat kondisi umat yang terombang-ambing dengan ketidakpastian dalam masalah akidah. Kedua, semakin kentalnya campur tangan asing terhadap negara Indonesia.

Ketiga, banyaknya kasus-kasus yang memperlihatkan semakin berkembangnya faham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme di Indonesia. Keempat, banyak pengurus MUI Sumbar sekarang yang bermasalah. Pendanaan MUI Putih nantinya akan bersumber dari pendanaan umat Islam. Sementara MUI pendanaannya berasal dari APBN dan APBD.

Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
Dari pemberitaan diatas, yang patut kita perhatikan adalah :
“MUI Putih itu hadir untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak mampu dikerjakan MUI”
Jadi, jangan menjadikan ini, sebagai perpecahan, tapi sebagai pelengkap dan penguat umat islam untuk lebih terorganisir dan lebih berdaya