Amdocs, sebuah perusahaan yang terlibat dalam tender pengadaan perangkat billing system Telkomsel dikabarkan adalah milik perusahaan asal Israel. Tak mau gegabah, Telkom selaku induk Telkomsel mengaku akan menelisik asal muasal perusahaan tersebut.

“Kita lihat dulu. Perusahaan itu berbasis dimana, kita kan ada peraturan dan segala macam. Ikut aturan saja lah,” ujar Dirut PT Telkom Rinaldi Firmansyah saat berbincang dengan detikINET, Selasa (22/12/2009) sore.

Namun di lain kesempatan, terkait dengan isu-isu tersebut, Menkominfo yang juga mantan Pesiden PKS, Tifatul Sembiring, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mendapatkan klarifikasi dari Kedutaan Besar Amerika Serikat. ”Mereka mengatakan, perusahaan tersebut berasal dari Missouri, AS, dan mereka juga sudah menunjukkan bukti-bukti kepemilikan serta tercatat di bursa saham New York,”ucap Tifatul.

Dia menambahkan, jika memang perusahaan tersebut berasal dari AS, maka tidak akan menjadi masalah untuk ke depannya. ”Artinya ‘kan tadinya ada yang menanyakan asal perusahaan tersebut apakah dari Israel. Setelah kita klarifikasi, ternyata dari AS dan itu tidak menjadi masalah,” pungkas Tifatul. Sebelumnya, pernah beredar isu yang menyebutkan perusahaan tersebut berasal dari Israel yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia.

Sesuai aturan yang berlaku, kerjasama dengan negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik, telah melanggar pasal 21 UU No. 36/1999 tentang Telekomunikasi. UU tersebut secara tegas melarang perusahaan asal negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik agar tidak membuka usaha di Indonesia. Dalam pasal tersebut penyelenggara telekomunikasi dilarang melakukan kegiatan yang dapat menimbulkan gangguan ketertiban umum, melanggar kesusilaan, dan mengganggu keamanan. Jika ada yang melanggar sanksinya bisa berupa pencabutan izin.

Benarkah Amdocs bukan perusahaan Israel? Bagaimana pula reputasi perusahaan tersebut? Dan apa bahayanya bagi kita kaum Muslimin di Indonesia? Tulisan ringkas ini akan mencoba menguraikannya secara jelas.

SIAPA AMDOCS ?

Ketika mencari identitas perusahaan ini via google, akhirnya di wikipedia diketemukan jawabannya. Secara historis perusahaan ini adalah perusahaan yang didirikan di Israel oleh Aurec Group, sebuah korporasi bisnis milik milyader Yahudi bernama Morris Kahn, dia termasuk 10 besar orang terkaya di Israel.

Amdocs adalah perusahaan penyedia perangkat lunak (software) dan jasa untuk penagihan, customer relationship management (CRM), sistem pendukung operasi (OSS), dan penyedia berbagai perangkat telekomunikasi dan informasi lainnya. Perusahaan ini juga menawarkan outsourcing layanan pelanggan dan operasi pusat data.

Saat ini Amdocs bermarkas di Chesterfield, Missouri, Amerika Serikat. Memiliki lebih dari 17.000 karyawan, tetapi kira-kira setengah dari jumlah karyawannya itu berbasis di Israel. Amdocs, juga tercatat namanya di saham di New York Stock Exchange,  dan beroperasi di lebih dari lima puluh negara. Amdocs juga memiliki divisi konsultan, yang disebut Divisi Consulting Amdocs, dengan kantor-kantor di seluruh dunia.

Selain proyek-proyek bisnis, Amdocs juga mendirikan berbagai organisasi nirlaba, salah satunya bernama ALEA – Amdocs Employees Lema’an Hakehila, sebuah organisasi yang katanya bertujuan membantu masyarakat. Eyal Ben Amram, wakil presiden dan koordinator proyek Amdocs mengatakan, “Kami memutuskan untuk fokus pada pendidikan bagi pemuda dan anak-anak bermasalah, sebagai cara terbaik untuk mempengaruhi perubahan jangka panjang dalam masyarakat. ”

AMDOCS  MENGONTROL  AMERIKA

Sudah bukan rahasia lagi bahwa peran Yahudi di Amerika sangat menggurita, mereka mampu mengarahkan berbagai kebijakan negara itu agar sesuai dan mendukung Israel. Berbagai strategi dan cara digunakan Israel dalam mengontrol langkah Amerika, salah satunya adalah melalui kendali telekomunikasi dan informasi.

Hampir semua data panggilan, tagihan dan direktori telepon di Amerika Serikat dikelola oleh perusahaan swasta yang berbasis di Israel, Amdocs Ltd. Amdocs memiliki kontrak dengan 25 perusahaan ponsel terbesar di Amerika. Gedung Putih dan beberapa saluran telepon pemerintah memang tidak termasuk, namun tidak mustahil untuk ditembus dengan teknologi yang dimiliki Amdocs. Hampir tidak mungkin untuk membuat panggilan telepon biasa tanpa tercatat di file Amdocs.

Beberapa kali FBI dan badan-badan lainnya menyelidiki Amdocs, namun perusahaan itu berulang kali menyangkal adanya pelanggaran keamanan atau kesalahan. Tapi menurut sumber-sumber Fox News pada tahun 1999, Badan Keamanan Nasional, yang berkantor pusat di utara Maryland, mengeluarkan apa yang disebut Top Secret Information, sebuah laporan informasi sangat rahasia, yang memperingatkan bahwa dokumen panggilan telepon di Amerika Serikat berada dalam genggaman asing, lebih khusus Israel.

Amdocs memang menguasai layanan kurang lebih 90% dari perusahaan telepon di USA, dengan komputer utama di Israel, memungkinkan mereka memiliki akses untuk melakukan apa yang badan-badan intelijen sebut “traffic analysis”, yaitu menganalisis jalur komunikasi yang sedang berlangsung. Hal ini tak ubahnya kegiatan intelijen yaitu menyadap pembicaraan orang lain untuk mereka analisis dan tindak lanjuti sesuai kepentingannya sendiri.

LANTAS BAGAIMANA?

DR Yusuf Qardhawi, seorang ulama yang disegani pernah mengatakan, haram hukumnya bagi ummat Islam membeli produk dan barang dagangan Yahudi dan Amerika, dan menganggap hal itu sebagai salah satu dosa besar. Kemudian dia menambahkan, bahwa jihad sekarang ini hukum fardhu `ain (wajib) karena Yahudi menghalalkan segala apa yang diharamkan dan tidak mengindahkan norma-norma moral dan nilai-nilai kemanusiaan serta hukum internasional. Maka produk-produk Amerika perlu diboikot, karena negara ini ikut membiayai negara Israel, berupa bantuan keuangan dan militer tiap tahun.

Bentuk gerakan boikot yang paling sederhana adalah dengan tidak membeli produk-produk buatan Amerika dan Israel, atau produk dari negara manapun yang berhubungan baik dengan Israel. Hubungan itu bisa berbentuk kerja sama dagang, investasi, maupun pengembangan produk. Setiap Muslim hendaknya bisa menahan diri untuk tidak membeli kebutuhan sehari-hari berupa makanan, minuman, atau pakaian yang bertanda “made in Israel” atau “made in USA” atau merek-merek yang memang dikenal berasal dari jaringan kedua negara itu.” Demikian menurut beliau.

Lantas bagaimana dengan Amdocs? sudah jelas bahwa perusahaan ini sejatinya adalah perusahaan Israel yang berganti muka menjadi Amerika, keduanya tak ada bedanya, sama-sama negeri kafir yang memusuhi umat Islam. Sudah nyata pula bagaimana bahayanya Amdocs dalam  melakukan kegiatan intelijen dan mengacaukan suatu negara. Kalau Amerika yang katanya canggih saja bisa dia susupi apalagi negeri ini.

Kaum Muslimin di negeri ini patut waspada, jangan sampai intel zionis ini bisa masuk dan menguasai jaringan komunikasi kita. Untuk Menteri Komunikasi dan Informasi, berpikirlah kembali. Amdoc dan Amerika sama saja. Kalo dulu mantan Presiden PKS ini berteriak-teriak anti Zionis dan Amerika, sekaranglah saatnya Anda bertindak. Tendang Amdocs segera, jangan kasih kesempatan masuk negeri ini, jangan nunggu fatwa Amerika. Bukankah Menteri ini lebih yakin dengan peringatan DR Yusuf Qardawi daripada penjelasan Amerika?

[muslimdaily.net/abufaiz]

Sumber