(Jakarta) voa-islam.com – Mengguritanya isu Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah (NII KW) 9 semakin menggelembung dan menyeret persepsi serta menimbulkan antipati masyarakat awam tentang Islam yang benar. Isu NII tiba-tiba saja kembali bergulir meski sebetulnya “hidangan lama” yang sudah basi.

Ketegasan pemerintah semakin dipertanyakan, muncul dikaitkan dengan kasus-kasus orang hilang dan pencucian otak. Nama Pondok Pesantren Al Zaytun juga disebut-sebut terkait NII KW 9. Pemerintah sebaiknya segera menyikapi, jangan bungkam!

“Pemerintah hendaknya segera membuat keputusan secepatnya, apakah Al Zaytun terlibat NII atau tidak. Apabila memang dinyatakan secara legal terlibat NII, segera saja ditutup. Apabila tidak terbukti, segera pemerintah membuat release kepada semua lembaga yang bersangkutan dengan adanya NII dan Al Zaytun,” ujar Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Pusat Mustofa B Nahrawardaya

Mustofa menambahkan, “Akibatnya, Al Zaytun mirip barang dagangan misterius yang bisa dimanfaatkan kapan saja, untuk kepentingan strategis. Entah itu untuk mengeruk keuntungan finansial, memojokkan agama Islam, atau meraup suara dalam pemilu. Namun yang paling sering adalah dimanfaatkannya Al Zaytun untuk menebar fitnah,” cetus staf ahli DPR ini. Pemilu 2004 lalu bahkan ratusan bus disewa orang tak dikenal dan merekrut kalangan oknum TNI dan masyarakat umum untuk mencoblos Partai Golkar di Pondok “Sesat” Al Zaitun di Indramayu, Jawa Barat. Namun ketika terhembus oleh awak media, kasus ini hilang bak ditelan waktu.

Seperti halnya LDII, NII pun melakukan politik dagang sapi dan negoisasi transaksional untuk memenangkan partai yang bisa melindungi kepentingan mereka.

Pemerintah diminta segera membuat tim audit keuangan Al Zaytun untuk meneliti bagaimana pesantren tersebut bisa kaya raya seperti sekarang. “Apakah harta benda yang mereka miliki dari hasil kejahatan, mungkin penipuan, atau money laundering. Atau memang sumber finansial mereka murni dari income yang halal,” jelasnya.

Dia juga menuturkan, banyak pendapat yang menyatakan ada kaitan antara NII KW9 dengan Pesantren Al Zaytun, termasuk penangkapan Pepi Fernando Cs, hanya untuk menghabisi Al Zaytun. Jika dilihat dari pola kejadiannya, sangat teratur.

NII pernah memiliki dana Milyaran di Bank Century

Dalam berita yang dirilis Detik.com, Kamis (28/04), Organisasi Negara Islam Indonesia (NII) sepertinya tidak main-main. Layaknya organisasi yang memiliki dana untuk operasionalnya, NII pernah memiliki dana yang tidak sedikit. Ratusan miliar dana NII diketahui pernah didepositokan di Bank Century (kini Bank Mutiara), kantor Cabang Senayan.

“Saat saya keluar tahun 2007 itu ratusan miliar. Itu tadinya dana untuk mendirikan lembaga pendidikan formal,” kata Imam Supriyanto, yang pernah menjabat Menteri Peningkatan Produksi NII dari 1997-2003, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (28/4/2011).

Dia bercerita, saat masa itu (1997-2003) yang mejadi Imam Negara adalah Syamsul Alam, orang yang ia yakini sama dengan pemimpin Pondok Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, Panji Gumilang. Namun setelah, ia keluar dari NII tahun 2007, ia tak tahu lagi keberadaan dana tersebut.

“Setalah keluar saya nggak tahu lagi dana itu, termasuk saat gonjang-ganjing kasus Century,” kata Imam.

Dia bercerita, dana besar yang dimiliki NII saat itu berasal dari sumbangan para anggotanya yang militan. Namun keadaaan berubah setelah terjadi gejolak internal pada tahun 2002. Saat itu, Syamsul Alam tidak bisa mempertanggungjawabkan ‘uang negara’ yang ia pakai.

“Saat itu separuh anggota keluar,” ujar Imam.

Nah, gejolak internal itulah yang menurut Imam membuat aksi NII belakangan ini banyak terkait dengan tipu-menipu dan pencurian. Pasalnya, setelah gejolak itu, pimpinan NII mengeluarkan kebijakan bahwa anggota harus menyumbang dengan target tertentu.

“Tidak ditentukan standar operasional pencarian dana seperti apa. Jadi anggota harus nombokin jika tidak mencapai target,” ujarnya.

Lain lagi dengan sikap MUI yang telah tegas menyatakan NII KW IX sesat dan menyesatkan plus melakukan tindakan makar terhadap negara dan agama Islam sendiri.

Lihat saja contoh kesesatan NII KW IX ini, beragam cara yang dilakukan Negara Islam Indonesia (NII) KW 9 untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Salah satu yang dilakukan adalah dengan mengirim wanita berjilbab ke aneka tempat umum seperti SPBU dan ATM untuk meminta dana kepada masyarakat, dengan berkedok yayasan panti asuhan. Tak hanya itu, seorang mahasiswi mantan anggota NII KW IX pun menceritakan kepada voa-islam.com, ia dipaksa mencari uang dengan meminta-minta di lampu merah, ATM dan bahkan di pusat perbelanjaan,

salah satu yang dilakukan adalah dengan mengirim wanita berjilbab ke aneka tempat umum seperti SPBU dan ATM untuk meminta dana kepada masyarakat, dengan berkedok yayasan panti asuhan.

“Untuk mencari dana, NII KW 9 mengirimkan wanita berjilbab ke tempat-tempat umum seperti SPBU dan ATM. Mereka mengaku sebagai utusan yayasan yatim piatu. Mereka mengedarkan amplop kosong dan meminta orang untuk mengisinya,” kata mantan Camat NII KW 9 wilayah Tebet, Sukanto

Pria yang biasa dipanggil Anto ini mengaku memantau sendiri kehadiran petugas yayasan asli tapi palsu alias aspal tersebut. Mereka beroperasi di sekitar Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Mereka berani menggunakan nama yayasan asli beraktekan notaris. Bahkan mereka mengontrak sebuah rumah untuk dijadikan kantor yayasan. Fisiknya benar ada tapi dana yang terkumpulkan 90 persen untuk membiayai NII. Hanya 10 persen yang digunakan untuk administrasi yayasan,” imbuhnya.

Menurut Anto, modus tersebut mulai digunakan NII KW 9 sejak tahun 1996 dan meledak di tahun 2004 pasca bencana tsunami yang melanda Aceh. Saat bencana tersebut, yayasan abal-abal itu merengkuh dana hingga miliaran rupiah.

“Melihat hal itu, NII KW 9 menggalakkan kembali modus yayasan abal-abal untuk mencari dana. Gerakannya dilakukan serentak di SPBU dan ATM yang tersebar di berbagai wilayah seperti Solo, Malang dan Jakarta,” tutup Anto.

Islam Dinodai Menjelang Pemilu

Seorang Ustadz yang aktif di ICMI, Ustadz Anshori A. Djabbar menandaskan, 3 tahun menjelang Pemilu selalu saja ada isu untuk mendeskredikan Islam dan menjadikannya korban konspirasi pihak tertentu. Berita buruk yang terus menerus digelontorkan yang nantinya secara psikologis akan menggiring persepsi buruk terhadap Islam dan semua simbol-simbol keislaman, termasuk partai yang bernafaskan Islam dan agenda pemenangan Pemilu. Benang merahnya tentu saja sebagai upaya menaikkan tawaran “partai nasionalis” sebagai alternatif kekecewaan publik pada simbol-simbol keislaman termasuk diantaranya kasus NII yang sama sekali tidak memperjuangkan Islam. Bahkan sebaliknya.

Ada upaya menaikkan tawaran “partai nasionalis” sebagai alternatif kekecewaan publik pada simbol-simbol keislaman termasuk diantaranya kasus NII yang sama sekali tidak memperjuangkan Islam. Bahkan sebaliknya.

Voa-islam.com sempat mencatat daftar hitam “Grand Design memojokkan Islam” yang jumlahnya tidak sedikit, bahkan 2-3 isu buruk tentang islam, baik menyerang Islam abangan, Islam moderat hingga aktivis dan ormas Islam bhakan hingga ke kasus perceraian AA Gym pun masuk dalam satu agenda yang sama, yaitu semua dijadikan bulan-bulanan dan sasaran “pembunuhan karakter”.

Mari simak bersama, apa saja konspirasi dan dagelan yang dimainkan di negeri kita.

Januari – Februari, Lintas Agama Bongkar Kebohongan SBY

Lihat saja, sejak Januari hinga April 2011 ini, isu-isu baru mendeskreditkan umat dan citra Islam selalu ada saja yang “dirilis” oleh kaum liberalis yang sejak jaman penjajahan Belanda sudah ditunggangi oleh Fremasonry Yahudi. Alih-alih ingin membongkar kebohongan Pemerintahan Presiden SBY-Budiono, malah Aktivis Lintas Agama yang di “bunuh karakternya”, tidak tanggung-tanggung, langsung tertuju kepada Din Syamsudin yang cenderung islam moderat. Bukan aktivis lain yang cenderung nasionalis atau kristen sekalian. Memang betapa lihainya mereka membuat pengalihan isu untuk menggelembungnya penolakan kepada SBY.

Februari – Maret : Kambing Hitam Umat Islam di Cikeusik dan Temanggung

Belum selesai masalah ini, timbul isu baru lainnya yang lagi-lagi memanaskan politik nasional, mulai dari kasus Ahmadiyah di Cikeusik dan penodaan Islam oleh pendeta di Temanggung yang menyudutkan FPI. Belum jua kasus dan terungkapnya aktor intelektual yang menurut penelusuran tim wartawan dan kontributor bermula pada adanya rapat disebuah rumah oknum jenderal ini. Bahkan Amerika Serikat mati-matian intervensi Indonesia agar tidak melarang Ahmadiyah.

Di Haifah Israel, jemaat Ahmadiyah hidup aman. Tidak mungkin Amerika Serikat dan Israel lindungi Ahmadiyah kalau Ahmadiyah itu tidak menyimpang dari ajaran Islam.

Maret : Densus Latihan Anti Terorisme Teriakkan “Jihad”

Ada lagi yang benar-benar melukai umat Islam, semua atribut Islam benar-benar babak belur dipermainkan Densus 88 Jatim, dalam simulasi penanganan bom di kereta komuter Stasiun Wonokromo, Kamis (24/3), menggunakan simbol ISLAM!!! Dalam latihan antiteroris, Densus 88 benar-benar tak beradab dan tidak menghargai perasaan umat Islam sebagai pemilik suara mayoritas di negeri terbesar ke empat didunia, dan negeri muslim terbesar di dunia. Kecaman datang akibat ulah Densus 88 Polda Jatim yang menggelar simulasi penanganan bom di kereta komuter dari Stasiun Wonokromo ke Stasiun Gubeng hari Kamis (24/3) kemarin. Apa pasal? apalagi kalau bukan pengunaan label pada kotak bom bertuliskan “Jihad Fisabilillah Demi Kebenaran” dan juga menggunakan teriakan takbir dari orang yang digambarkan sebagai teroris yang digunakan Densus 88 Anti Teror dalam simulasi penanganan teroris ini dituding telah melecehkan umat Islam.

kotak bom bertuliskan “Jihad Fisabilillah Demi Kebenaran” dan  beradegan takbir dari orang yang digambarkan sebagai teroris yang digunakan Densus 88 Anti Teror adalah penghinaan yang sangat jelas

Maret : Cerita Berseri ala Bom Buku dan Situs PSSI di hack The Soldier of Allah.

Belum usai isu Dewan Revolusi yang akhirnya menguap ditelan waktu, timbul lagi isu baru yaitu teror “Bom Buku” yang lagi-lagi mengatasnamakan Jihad Islam. “Si pembuat bom bukan menarget orang-orang yang dikirimi (paket bom buku) itu. Akan tetapi, tujuannya adalah agar pemuda Pancasila, Liberal, Polisi dan tokoh politik misalnya, kemudian marah. Lalu membenci tokoh-tokoh Islam,” kata Munarman. Bom buku juga langsung “menunjuk hidung” Ustadz Jihad Abu Bakar Ba’syir dan Abdullah Sunata. Persidangan belum usai, vonis belum dipalu namun media masa menohok kedua tokoh jihad beda generasi ini. Aneh bukan?

Belum kasus ini kelar, timbul situs PSSI di Hack oleh aktivis Jihad Islam? Tak mempan menyerang Tokoh Lintas Agama yang menyudutkan Din Syamsudin, lalu menuduh ormas Islam cenderung anarkis dan menguapnya dalang Ahmadiyah di kasus Cikeusik dan Pendeta Anarkis di Temanggung, kini hacker bernama “The Soldier of Allah” menyerang situs PSSI dengan menuliskan kalimat-kalimat khas aktivis islam. Kalo ini umat Islam yang melakukannya, ada sedikit kejanggalan yaitu dengan penggunaan back-sound  rapper yang berceloteh tentang demokrasi dan terorisme.

Lirik Rap dimulai dengan menyebut sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib dan istri Rasulullah Aisyah. si Rapper memulai celotehnya dengan “Sarungkanlah Pedang Ali dan Siti Aisyah ke tempat yang pantas…”

Situs tersebut kini tidak menampilkan halaman seperti biasanya, melainkan gambar yang berisikan pesan khusus. Pada halaman utama situs tersebut hanya menampilkan pesan bertuliskan Khilafah and Syariah The Solution dengan latar belakang bewarna hitam, situs tersebut juga disusupi lirik Rap yang menyerukan sindiran terhadap penguasa yang tidak becus mengatur rakyatnya.

Maret-April : Ribut Internal PKS dan Politikus Video Porno

Yusuf mengingatkan kepada para elit PKS agar tidak sewenang-wenang terhadap dirinya, karena ia mengancam akan membongkar semua tabir kepalsuan dan sejumlah kasus di tubuh PKS. “Saya ini diakui oleh Ustadz Abu Ridho sebagai perutnya PKS yang menyimpan banyak rahasia PKS. Jadi jangan coba-coba macam-macam. Nanti saya muntahkan semua peluru yang saya simpan ini,” ancamnya. Semoga kasus ini mencelikkan semua mata, agar istiqamah menjaga syariat Islam, termasuk syariat poligami. Karena di tangan orang yang tidak bertanggungjawab, syariat poligami tercederai,  nampak tercela, kotor dan keji di mata masyarakat awam.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus” (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 168, hadits nomor 9049). baca juga : Astagfirullah! Poligami 3 Elit PKS Bermasalah, Fasakh dan Langgar Syari’ah?

Umat sudah kesal dengan ribut-ribut internal, eh timbul politkus PKS, Arifinto nonton film porno saat sidang Paripurna MPR/DPR. Label PKS porno akhirnya diributkan seluruh media massa.

Politisi PKS, Arifinto kepergok menonton video porno saat Sidang Paripurna sedang berlangsung. Anggota Komisi V DPR tersebut sedang membuka-buka folder dari tablet. Tak lama kemudian, muncullah video porno tersebut. karena mendapat kiriman email dari seseorang. Tapi dari kacamata fotografer yang menjepret Arifinto, terlihat video tersebut dibuka dari kumpulan dokumen atau folder di dalam tablet. Demikian ungkap M Irfan, fotografer Media Indonesia.

April : Episode Film “?”

Semenjak diluncurkan ke publik, film “?” langsung menyengat umat Islam sebagai kambing hitam, kalangan muda yang masih awam dibidik untuk membenci Islam, mereka disusupi label buruk dalam film “?” ini, kesan sok toleransi ala Hanung, seperti jalan yang menghantarkan umat ini pada sebuah pendangkalan aqidah dan jembatan menuju Neraka. Aroma pluralisme dalam film ”?” terasa begitu menyengat. Stereotype umat Islam yang buruk, dilukiskan Hanung dengan cara pandang yang lebay, tendensius, dan fatal. Setelah Film “Perempuan Berkalung Surban” menuai kontroversi, Sutradara Hanung Bramantyo kembali menggarap film terbarunya yang hanya diberi tanda “?” (tanda tanya). Difilm ke-14 nya tersebut, Hanung menggaet beberapa bintang film muda, seperti Reza Rahardian, Revalina S Temat, Agus Kuncoro, Endhita, Rio Dewanto, Hengky Sulaeman, David Chalik, dan Glenn Fredly. Film ”?” merupakan hasil produksi kerjasama antara Mahaka Picture dan Dapur Film ini, dimana Erick Thohir yang juga pemilik REPUBLIKA sebagai Produser Eksekutifnya, Titien Wattimena (penulis naskah), Tya Subiakto (penata musik),  dan Yadi Sugandi (penata fotografi). Untuk lokasi syuting dipilih di kota Semarang, Jawa Tengah.

Di awal-awal film itu, penonton sudah disengat dengan hal yang sensitif, seperti  adegan penusukan terhadap seorang pendeta bernama Albertus. Tidak jelas apa motif penusukan yang dilakukan oleh seseorang yang berpenampilan preman tersebut. Meski tidak menunjuk hidung secara langsung, namun ada kesan Hanung hendak menggiring sterotype buruk, seolah yang suka melakukan tindakan anakis datang dari kelompok agama tertentu.

Adegan selanjutnya, tanpa alasan yang jelas pula, sekelompok pemuda Islam bersarung dan berpeci tiba-tiba mencerca seorang keturunan Cina dengan panggilan ”Cino” (menyebut Cina dengan logat Jawa). Dalam film ini, Hanung banyak menggunakan simbolik-simbolik sensasi murahan yang didramatisir, yang berpangkal dari sebuah kemarahan terpendam. Bila Hanung mempersilahkan penonton memberi judul film “?” ini, maka pantas, jika film ini diberi judul “Sang Murtadin”. Anda Setuju???

April : Episode Hipnotis Untuk Jihad dan NII KW IX

Janggalnya kasus Hipnotis ibu Muda pegawai honorer Departemen Perhubungan untuk membantu Islam dengan cara Jihad nampaknya tidak ada relevansinya dan sangat jauh dari pergerakan umat Islam yang memang rindu Jihad dalam aktivitas dakwahnya. Cara-cara ini sangat lebay dan gak nyambung. Kami mengamati dan mengikuti pergerakan jihad islam di Indonesia dan mereka ga butuh hipnotis dan dukungan apalagi menculik Ibu-ibu hinga meninggalkan keluarganya. Bahkan lebih aneh, Selama berada di Masjid At-Ta’awwun, Puncak, Bogor, Lian Febriani (26) selalu menyebut-nyebut nama Aisyah yang tak lain nama istri Rasulullah SAW. Wanita misterius tersebut dikatakan Lian sebagai ibu yang pernah memandikannya. Berdasarkan cerita Lian kepada warga sekitar, sosok Aisyah digambarkan sebagai wanita  bercadar yang berbadan pendek. Ibu beranak satu itu juga pernah bercerita suatu hari dimandikan di tempat tertentu.

“Dia sering nanya, Ibu Aisyah katanya mau ke sini. Mana?” ucap Iwan menirukan Lian.

Lian Febriani adalah PNS di Bagian Tata Usaha, Direktorat Bandar Udara, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan yang hilang sejak Kamis (7/4) lalu. Sebelum hilang, Lian dan teman sekantornya sempat makan siang di kantin Kementerian Informasi dan Komunikasi.

Usai makan siang, Lian mengatakan kepada temannya ia akan menemui seseorang di Jl Tanah Abang, Jakarta Pusat. Namun hingga jam pulang kantor Lian tidak pernah kembali ke kantornya. Sejak menghilang, Lian juga tidak pernah menghubungi keluarga maupun rekan sekantornya. Saat ditemukan, ada yang aneh dari kondisi psikologis ibu satu anak tersebut. Dia tak mengenal lagi keluarganya. Termasuk dirinya sendiri. Dia juga mengenakan cadar dan mengaku bernama Maryam.

Bahkan Oknum FBR di Joglo pernah mencurigai gerak-gerik 5 orang yang menyebarkan Islam didaerahnya, setelah diintai ternyata 3 pria berjenggot dan 2 wanita bercadar tersebut adalah misionaris yang sengaja ingin menjelekkan citra muslimah bercadar dan pria brejenggot yang sesungguhnya bagian dari sunnah Rasulullah SAW. Singkat kata, oknum FBR tersebut menginterogasi dan menelanjangi sang pria yang kedapatan mengenakan kalung salib rosario di lehernya.

oknum FBR menginterogasi dan menelanjangi sang pria berjenggot dan bergamis yang ternyata seorang misionaris yang mengenakan kalung salib rosario di lehernya.

Umat Islam Waspada!! Awas Islam selalu menjadi “korban Konspirasi” media menjelang Pemilu 2014. (voa-islam.com/desvan2)