Lanjutan dari bag.2

Dalam kesempatan yang dikaruniakan oleh Allah ini dengan izin Allah saya akan menyampaikan tadzkiroh (peringatan dan nasehat), terutama kepada kaum muslimin dalam rangka mengamalkan perintah Allah:
“Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku”
 Tadzkiroh ini saya sampaikan kepada :
I.    Para pejabat Negara yang mengaku sebagai muslimin, baik yang dipemerintahan, MPR, DPR dan dibidang hukum.
II.    Kaum muslimin dan muslimat sebagai rakyat Negara ini.
III.    Kaum kafirin baik sebagai pejabat maupun yang rakyat biasa.PERTAMA :
Tadzkiroh Kepada Semua Pejabat Negara Yang Mengaku Sebagai Muslimin

Para hamba Allah pejabat Negara yang mengaku ber-agama Islam, ketahuilah bahwa kewajiban anda sekalian yang paling utama adalah memahami hakikat diinul Islam, ini meliputi :

Pertama : Hakekat Diinul Islam

Allah berfirman:
Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), Maka Katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. dan Katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam”. jika mereka masuk Islam, Sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, Maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya(Ali Imron :20)

Firmannya lagi :
Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”. (Al Baqaroh :131)
Dalam ayat ini Allah  menegaskan bahwa hakekat Diinul Islam adalah mengajarkan bahwa aku hidup ini harus menyerahkan diri kepada Allah sepenuhnya. Maksudnya kehidupan di dunia ini harus hanya di isi untuk mengabdi (ibadah) kepada Allah saja, maka semua Rasul Allah menyeru kepada ummatnya dan memerintahkan pengikutnya agar mengisi kehidupan di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Allah. Allah berfirman :
Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, (An Nahl : 36)Karen tujuan Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaNya :
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adzariyaat : 56)

Yang dimaksud ibadah hanya kepada Allah, pelaksanaannya bukan hanya menyembah, tetapi mengatur seluruh aspek kehidupan dari urusan pribadi, keluarga, masyarakat dan Negara hanya diatur dengan hukum Allah dan sunnah rasulNya secara kaffah (seluruhnya seratus persen).
Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Al Baqaroh : 208)

Yang dimaksud masuk Islam keseluruhan dalam ayat ini ialah amalkan seluruh hukum Allah 100% jangan ada yang sengaja di tinggalkan.  Maka tidak boleh mengatur hidup dengan hukum Allah secara sepotong-sepotong, cara ini diancam kehinaan hidup didunia dan adzab pedih diakherat, karena ini termasuk langkah syaitan. Allah berfirman:
Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain ? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat (Al Baqarah : 85)Wahai pejabat Negara yang beragama Islam bila anda mengatur hidup pribadi dan keluarga anda dengan hukum Allah, akan tetapi anda menolak mengatur Negara/pemerintahan yang anda kuasai dengan hukum Allah secara kaffah/menyeluruh, maka anda  bukan muslim, meskipun anda mengamalkan sholat, puasa, zakat, haji dan lain-lain. Sebab Allah memerintahkan semua pemimpin agar mengatur rakyatnya dengan hukum Allah dalam firmanNya :
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu, Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Al Maidah : 48-49)

Dan Allah menghukumi kafir bagi mereka yang menolak dalam firmanNya :
Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.(Al Maidah : 44)
Iman Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, menerangkan hakekat Islam: Islam adalah mentauhidkan Allah, ibadah hanya kepada Allah tidak ada sekutu bagiNya, Iman kepada Allah dan rasulNya dan mengikuti apa yang dibawa rosul. Bila hal-hal ini tidak dibawa (diamalkan) oleh seorang hamba, maka dia bukan seorang muslim. (Kitab : Thoriqul Hijratain : 452)
Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab menjelaskan: Bila amalan kamu seluruhnya ditujukan kepada Allah maka kamu orang bertauhid dan bila ada penyekutuan didalamnya terhadap makhluk maka kamu adalah seorang musyrik. Ini maksudnya : yang dimaksud amalan seluruhnya di tujukan kepada Allah ialah semua aspek kehidupan di dunia ini harus diatur dengan hukum Allah dan sunnah RasulNya dengan niat semata-mata karena Allah.Adapun yang di maksud: “bila ada penyekutuan di dalamnya” ialah : mengatur kehidupan dengan hukum Allah bercampur dengan hukum buatan manusia yang bertentangan dengan hukum Allah. Seperti yang diterangkan di atas, bila anda mengatur hidup pribadi dan keluarga anda dengan hukum Allah, tapi anda menolak mengatur Negara anda dengan hukum Allah seratus persen, maka anda bukan muslim, bahkan anda orang kafir dan musyrik karena masih loyal kepada hukum jahiliah ialah hukum ciptaan manusia yang bertentangan dengan hukum Allah yang anda gunakan untuk mengatur Negara. Allah berfirman :
…Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
….Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.(Al Maidah : 44-45)

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithy menerangkan: termasuk petunjuk Al-Quran terhadap jalan yang paling lurus adalah penjelasannya bahwa setiap orang yang mengikuti hukum selain hukum yang dibawa oleh penghulu anak Adam Muhammad Ibnu Abdillah n, maka ikutnya hukum yang menyelisihi itu adalah kufrun bawwah (kekafiran yang nyata) yang mengeluarkan dari millah Islamiyah. Kekafiran yang lebih jelas dari sinar matahari di siang bolong (Adlwaul Bayan : 3/325).
Dan berkata juga : “Dan bisa dipahami dari ayat-ayat, seperti firmanNya:
Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”. (Al Kahfi : 26)
Bahwa orang-orang yang mengikuti aturan-aturan para pembuat hukum selain apa yang telah Allah Syareatkan sesungguhnya mereka adalah orang-orang musyrik. (Adlwaul Bayan : 4/65).

Itulah hakekat Diinul Islam yang harus diamalkan, Yakni mengatur seluruh aspek kehidupan dengan hukum Allah 100 % tidak boleh sepotong-potong dan dicampur aduk dengan hukum – hukum jahiliyah.
Kedua :    Harus belajar untuk memahami hakekat : La ilaaha illallah.
Termasuk kewajiban setiap muslim adalah memahami hakekat tauhid yakni la ilaaha illallah lawan dari tauhid adalah syiriq. Antara tauhid dan syiriq adalah dua perkara yang kontradiksi seperti siang dan malam, tidak bisa bersatu dan berdamai dan tidak saling bertoleransi. Demikian pula antara Islam dan kafir tidak bisa dicampur. Bila ada tauhid tidak boleh ada syiriq, bila ada syiriq tauhid harus pergi. Bila ada Islam, tidak boleh ada kekafiran, bila ada kekafiran Islam harus pergi tidak boleh bertoleransi, keduanya saling membenci. Tauhid adalah haq, syiriq adalah batil. Islam adalah haq, kafir adalah batil. Antara haq dan batil tidak boleh di campur.
Allah berfirman :
Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 42).
Maka antara hukum tauhid dan hukum syiriq, hukum Islam dan hukum kafir tidak boleh dicampur apapun alasannya kalau dicampur tauhid dan Islamnya batal.