Rukun Ketiga:Iman Kepada Kitab-Kitab-Nya

http://alislamu.com Ahlus Sunnah wal Jamaah mengimani dan beri’tiqad dengan i’tiqad yang bulat bahwa Allah SWT  menurunkan kepada para Rasul-Nya Kitab-kitab-Nya; yang isinya perintah, larangan, janji, ancaman dan apa-apa yang dikehendaki Allah dari makhluk-Nya serta dalam Kitab-kitab tersebut terdapat hidayah dan cahaya. Allah Ta’ala berfirman, “Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya.” (Al Baqarah: 285).

Allah menurunkan Kitab-kitab-Nya kepada para Rasul-nya sebagai petunjuk bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman, “Alif, laam raa. (Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin  Rabb  mereka, (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Mahaperkasa lagi Mahaterpuji.”(Ibrahim: 1).

Kitab-kitab itu adalah al-Qur-an, Taurat, Injil, Zabur dan Shuhuf Ibrahim dan Musa. Yang paling agung dari kitab-kitab tersebut adalah Taurat, Injil dan al-Qur-an. Sedang yang paling agung dan utama dari ketiga kitab itu dan sekaligus sebagai penghapusnya  adalah  al-Qur-an.

Ketika Allah menurunkan kitab-kitab-Nya -kecuali al-Qur-an, Dia tidak memberikan jaminan pemeliharaannya, tetapi hanya dipelihara oleh para pemuka agama dan rabbaniyun. Namun mereka tidak memeliharanya dan melindunginya dengan baik; maka terjadilah perubahan dan penyelewenangan di dalamnya.

Allah telah mengabarkan di dalamnya tentang cerita orang-orang zaman dahulu dan akhir serta tentang penciptaan langit dan bumi. Allah telah menjelaskan  tentang halal dan haram, dasar-dasar budi pekerti, akhlak, hukum ibadah dan mu’malah, sirah (biografi) para Nabi dan orang-orang shalih, balasan bagi kaum Muslimin maupun orang kafir dan menerangkan sifat-sifat Surga sebagai tempat tinggal kaum Mukminin dari sifat-sifat Neraka sebagai tempat tinggal kaum kafir. Allah telah menjadikan al-Qur’an sebagai obat bagi penyakit yang di dalam jiwa, penjelas bagi segala sesuatu dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi kaum Mukminin. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur-an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira orang-orang yang berserah diri.” (An Nahl: 89).

Wajib bagi semua ummat untuk mengikuti (ajarannya) dan berhukum dengannya bersamaan dengan sunnah yang shahih dari Nabi SAW. Karena Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada manusia dan jin untuk menjelaskan kepada mereka apa yang telah diturunkan-Nya kepada mereka.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur-an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia  apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (An-Nahl: 44).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Mengimani bahwa al-Qur-an adalah Kalamullah baik huruf ataupun maknanya, berasal dari Allah dan kepada-Nya akan kembali; yang diturunkan, dan bukan makhluk. Allah memfirmankannya dengan sebenar-benarnya dan mewahyukannya melalui Jibril lalu Jibril a.s turun dengannya untuk disampikan kepada Muhammad SAW.

Rabb Yang Mahabijaksana lagi Mahamengetahui menurunkannya dengan bahasa Arab yang nyata lagi jelas dan disampaikan kepada kita secara mutawatir, yang tidak ada keraguan ataupun kebimbangan terhadapnya. Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya al-Qur’an  ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu peringatan dengan Bahasa Arab yang jelas.” (Asy-Syuaraa’: 192-195).

Al-Qur-anul Karim tertulis di Lauhul Mahfuzh, dihafalkan dalam dada, dibaca oleh lisan dan tertulis dalam lembaran-lembaran. Allah Ta’ala berfirman, “Sebenarnya, Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata daidalam dada orang-orang yang diberi ilmu …….” (Al-Ankabuut: 49).

Firman-Nya juga, “Sesungguhnya al-Qur-an ini adalah bacaan yang  sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuknya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan  dari Rabb semesta alam.” (Al Waaqi’ah: 77-80).

Al-Qur-anul Karim merupakan  mukjizat yang paling besar dan kekal bagi Nabi Muhammad bin Abdullah SAW ia adalah kitab samawi terakhir yang tidak dihapus atau dirubah. Allah telah menjamin untuk memeliharanya dari segala bentuk penyelewenangan, perubahan, penambahan dan pengurangan sampai pada suatu hari Allah akan mengangkatnya, yaitu sebelum hari Kiamat. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur-an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al Hijr: 9).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengkafirkan orang yang mengingkari satu huruf darinya atau menambah maupun menguranginya. Atas dasar ini, maka kita beriman dengan tegas bahwa setiap ayat dari al-Qur-an adalah diturunkan dari sisi Allah, dan sampai kepada kita dengan jalan mutawatir yang qath’i (pasti).

Al-Qur-anul Karim tidak turun sekaligus kepada Rasulullah SAW, tetapi turun secara berangsur-angsur sesuai dengan kejadian atau sebagai jawaban dari pertanyaan ataupun sesuai dengan tuntutan keadaan; dalam kurun waktu 23 tahun.

Al-Qur-nul Karim terdiri dari 114 surat, 86 surat diturunkan di Makkah dan 28 surat diturunkan di Madinah. Surat-surat yang diturunkan di Makkah(sebelum Hijrah) dinamakan “surat-surat Makkiyyah”, sedangkan surat yang diturunkan di Madinah (sesudah hijrah) dinamakan “surat-surat Madaniyyah”. Di dalam al-Qur-an terdapat 29 surat dibuka dengan huruf-huruf yang terputus.

Al-Qur-an sudah ditulis pada zaman Nabi SAW di bawah pengawasan langsung oleh beliau, dimana penulisan wahyu tersebut ditangani oleh orang-orang ahli dari para sahabat pilihan. Mereka menulis setiap kali ayat al-Qur-an turun atas perintah Nabi SAW, kemudian dikumpulkan pada zaman Abu Bakar dalam mush-haf  dan pada zaman ‘Utsman r.a. disatukan dengan menggunakan satu macam huruf  (satu  dialek).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menaruh perhatian pada pengajaran al-Qur-an, penghafalannya, pembacaannya, penafsirannya dan pengalamannya. Allah Ta’ala berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad: 29)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah beribadah kepada Allah dengan membacanya, karena dalam bacaan setiap huruf terdapat satu kebajikan, seperti yang disabdakan Nabi SAW, Barangsiapa membaca satu huruf dari al-Qur-an, maka baginya adalah satu kebaikan. Sedang satu kebaikan pahalanya sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan bahwa Alif Laam Miim itu satu huruf. Akan tetapi ali satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (Shahih Sunan at-Tirmidzi oleh Syaikh al-Albani). (HR. Al-Bukhari dalam kitab at-tarikh (I/216 no. 679) dan at-Tirmidzi no. 2910 dari Sahabat Ibnu Mas’ud. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam silsilatul Ahaadiitsish Shahiihah no. 3327).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak memperbolehkan penafsiran ayat-ayat al-Qur-an dengan pendapat (logika) semata, karena hal itu termasuk mengatakan tentang Allah tanpa dasar ilmu bahkan hal itu termasuk perbuatan syaitan. Allah Ta’ala berfirman, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat dibumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqarah: 168-169).

Hendaknya al-Qur-an ditafsirkan dengan al-Qur-an, lalu dengan as-Sunnah, lalu dengan ucapan para Sahabat kemudian dengan ucapan para Tabi’in dan kemudian dengan bahasa Arab; dimana al-Qur-an diturunkan dengan bahasa tersebut.

Sumber: Diadaptasi dari Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari, Al-Wajiiz fii Aqiidatis Salafis Shaalih (Ahlis Sunnah wal Jama’ah), atau Intisari Aqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah), terj. Farid bin Muhammad Bathathy(Pustaka Imam Syafi’i, cet.I), hlm. 95-101.