Rukun Keenam: Iman Kepada Takdir

http://alislamu.com Ahlus Sunnah wal Jama’ah berkeyakinan dengan pasta bahwa segala sesuatu yang baik ataupun  buruk, terjadi dengan takdir dan ketentuan Allah. Allah Mahaberbuat ada yang Dia kehendaki. Segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya. Dia mengetahui segala suatu yang terjadi  atas kehendak-Nya dan tidak akan keluar dari kehendak dan kekuasaan-Nya. Dia mengetahui segala suatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi sebelum hal tersebut terjadi dalam (ilmu-Nya) yang azali. Dia mentakdirkan segala ketentuan untuk alam semesta ini seseuai dengan ilmu dan hikmah-Nya Allah mengetahui keadaan manusia. Rizki, ajal, amal perbuatan dan segala perkara mereka. Maka segala yang terjadi adalah dibawah pengetahuan, kekuasaan dan kehendak Allah.

Intinya, segala sesuatu terjadi sampai hari akhir telah diketahui dan dicatat terlebih dahulu oleh Allah, Firman-Nya, “….(Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai Sunnatullah pada Nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.”(Al-Ahzab: 387).

Firman-Nya pula, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala seauatu menurut ukuran.” (Al-Qamar: 49).

Nabi SAW bersabda, “Tidak beriman seseorang sehingga dia beriman kepada takdir  baik dan buruk, dan menyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan menimpanya dia tidak akan meleset darinya; dan apa yang ditakdirkan tidak menimpanya, tentu tidak akan menimpanya.” (Shahih Sunan at-Tirmidzi, karya al-Albani) (HR. At-Tirmidzi no. 2144 dari Sahabat Jabir bin ‘Abdillah. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiitsish Shahiihah no. 2439.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa beriman kepada takdir tidak akan sempurna kecuali dengan empat hal, yang dinamakan: “Maratibul Qadar” (tingkatan takdir) atau disebut juga rukun takdir. Empat hal ini merupakan pengantar untuk memahami masalah takdir. Tidak sempurna keimanan seseorang dengan takdir kecuali dia mewujudkan semua rukunnya, karena satu dengan lainnya berhubungan erat. Barang siapa mengakui semuanya, maka sempurnalah keimanannya kepada takdir. Dan sebaliknya barangsiapa mengurangi salah satu darinya atau melebihkannya, maka rusaklah keimanannya kepada takdir.

Tingkatan Pertama:Al-‘Ilm (Ilmu)

Yang beriman  bahwa Allah Ta’ala Mahamengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan yang belum terjadi, serta seandainya terjadi Dia Mahamengetahui bagaimana akan terjadi, secara global dan rinci. Dia mengetahui rizki, ajal, amal perbuatan, gerak-gerik mereka dan mengetahui siapa di antara mereka yang bahagia dan sengsara. Hal tersebut berdasarkan ilmu-Nya yang qadim(dahulu), yang menjadi sifat-Nya sejak zaman azali. Allah Ta’ala berfirman, “….Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu.” (At-Taubah: 115).

Tingkatan Kedua:Al-Kitabah (Pencatatan)

Yaitu mengimani bahwa Allah telah mencatat segala apa yang telah diketahui sebelumnya dari semua takdir makhluk-Nya dalam Lauhul Mahfuzh, yaitu kitab yang tidak ada suatu apapun luput darinya. Maka segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi, dan sampai hari Kiamat telah tertulis disisi Allah Ta’ala dalam Ummul Kitaab (kitab induk) yang dinamakan adz-Dzikr. Al-Imaam dan al-Kitaabul Mubbin. Allah Ta’ala berfirman, “….Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (lauhul Mahfuzh).” (Yaasiin: 12).

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan Allah  adalah al-Qalam (pena). Lalu Allah berfirman: ‘Tulislah! Pena tersebut bertanya, ‘Apa yang harus saya tulis?’ Allah menjawab: ‘Tulislah takdir (semua makhluk) apa yang telah terjadi dan akan terjadi sampai akhir zaman (hari Kiamat)!” (Shahih Sunan at-Tirmidzi oleh Imam al-Albani). (HR. At-Tirmidzi no. 2155, 3319, Abu Dawud no. 4700, Ibnu Abi’Asihim dalam as-Sunnah no. 102 dan Ahmad (V/317) dari Sahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit. Hadits ini dishaihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ish Shaghiir no. 2017).

 

Tingkatan Ketiga: Al-Iradah Wal Masyi’ah (Keinginan dan Kehendak)

Yaitu segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah dengan keinginan dan kehendak Allah, dan berporos pada rahmat dan hikmah-Nya. Dia-lah yang memberkan petunjuk kepada orang yang dikehendaki karena rahmat-Nya dan menyesatkan orang yang dikehendaki karena hikmah-Nya. Dia tidak ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, karena keempurnaan hikmah dan kekuasaan-Nya, akan tetapi para hamba-Nya akan diminati pertanggungjawaban. Apa yang telah terjadi dari hal tersebut, maka sesungguhnya semua itu sesuai dengan ilmu-Nya yang azali (dahulu), yang telah  tertulis di Lauhul Mahfuzh. Dengan demikian, kehendak Allah itu pasti terjadi, kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu. Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi; maka tidak ada sesuatu  apapun yang lepas dari kehendak-Nya.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (At-Takwir: 29).

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya semua hati anak keturunan Adam pada dua jari diantara jari-jemari ar-Rahman, bagaikan satu hati, Dia merubahknya (membolak-balikkan kemana saja) menurut kehendak-Nya.” (HR. Muslim) (HR. Muslim no. 2654 dan Ahmad (II/168) dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al’Ash).

Tingkat Keempat: Al-Khalq (Penciptaan)

Maksudnya beriman bahwa sesungguhnya Allah Pencipta segala sesuatu. Tiada pencipta dan tiada Rabb selain Dia. Segala sesuatu selain Dia adalah makhluk. Dia-lah yang menciptakan makhluk yang berbuat sekaligus perbuatannya, serta semua yang bergerak sekaligus gerakannya. Allah Ta’ala berfirman, “….Dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Al-Furqaan: 2).

Segala yang terjadi, berupa perbuatan baik atau jelek, iman atau kufur, dan ta’at atau maksiat telah dikehendaki, ditentukan dan diciptakan oleh Allah.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidak ada seorang pun akan berman kecuali dengan izin Allah……” (Yunus: 100)

Dan firman-Nya, “Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami……” (At-Taubah: 51)

Sesungguhnya Allah Ta’ala Mahapencipta, hanya milik-Nya menciptakan dan mengadakan. Dia Yang Mahapencipta segala sesuatu tanpa pengecualian, tiada Pencipta dan tiada Rabb selain Dia. Allah Ta’ala berfirman, “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (Az-Zumar: 62)

Sesungguhnya Allah menyukai ketaatan dan membenci kemaksiatan; memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki dengan karunia-Nya dan menyesatkan orang yang dikehendai karena keadilan-Nya. Allah berfirman, “Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya. Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu. Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain….” (Az-Zumar: 7).

Tidak ada hujjah dan alasan bagi siapa yang telah disesatkan-Nya, karena Allah telah mengutus pada Rasul-Nya untuk mematahkan alasan (agar manusia tidak dapat membantah Allah). Dia menyandarkan perbuatan manusia kepadanya dan menjadikan perbuatan itu sebagai upayanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Allah Ta’ala berfirman, “Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada  hari ini….” (Al-Mu’min: 17)

Dan  firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (Al-Insan: 3).

Serta  firman-Nya, “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (At-Takwir: 29)

Firman-Nya yang lain menyatakan, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesui dengan kesanggupannya.” (An-Al-Baqrah: 286)

Namun, keburukan tidak boleh dinisbatkan kepada Allah karena kesempurnaan-Nya rahmat-Nya. Karena dia telah memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan itu terjadi dalam hal-hal yang telah menjadi ketentuan-Nya dan sesuai dengan hikmah kebijaksanaan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh dari Allah, apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri…” (An- Nisaa’:79).

Allah Ta’ala Mahasucidari kezhaliman dan bersifat Mahaadil, maka Allah tidak akan pernah sekali-kali menzhalimi seorang pun dari hamba-Nya walau hanya sebesar biji sawi. Semua perbuatan-Nya adalah keadilan dan rahmat.

Allah Ta’ala berfirman, “…. Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.” (Qaaf: 29)

Dan firman-Nya, “…. Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (Al-Kahfi: 49)

Dan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seorang walaupun sebesar dzarrah…”(An-Nissa : 40).

Allah Ta’ala tidak ditanya tentang apa yang diperbuat dan dikehendaki-Nya, berdasarkan firman-Nya, “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (Al-Anbiya’: 23).

Maka Allah Ta’ala-lah yang menciptakan manusia dan perbuatannya. Dia memberikan kepadanya kemauan, kemempuan, ikhtiar dan kehendak yang Allah telah berikan kepadanya agar segala perbuatannya  itu benar-benar berasal darinya. Kemudian Allah menjadikan bagi menusia akal untuk membedakan antara yang baik dan dan buruk. Allah tidak menghisabnya melainkan atas amal yang ia perbuat dengan kehendak dan ikthiarnya sendiri. Maka manusia bukan dipaksa, tetapi dia mempunyai ikthiar dan kehendak, maka dia bebas memilih dalam segala perbuatan keyakinannya. Hanya saja kehendak manusia itu mengikuti kehendak Allah.

Dan segala yang Allah kehendaki-Nya pasti akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki pasti tidak akan terjadi. Jadi Allah Ta’ala sebagai Pencipta segala lperbuatan hamba-Nya, dan mereka yang melakukan perbuatan itu. Intinya perbuatan itu diciptakan, diadakan dan ditakdirkan oleh Allah, namun diperbuat dan dilakukan oleh manusia.

Allah Ta’ala berfirman, “(Al-Quran sebagai peringatan) bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah,Rabb semesta alam.” (At-Takwir : 28-29).

Allah telah membantah orang-orang musyrikin ketika mereka berhujjah dengan takdir. Mereka berkata, “…. Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun….”(Al-An’aam: 148).

Maka Allah membantah kebohongan meraka dalam firman-Nya, “…. Katakanlah: ‘Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kemu mengemukakannya kepada Kami ? Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta.” (Al-An’aam: 148).

Ahlus Sunnah  wal Jama’ah mengimani bahwa takdir itu merupakan rahasia Allah terhadap makhluk-Nya. Tidak ada seorang Malaikat yang terdekat maupun Nabi yang diutus-Nya mengetahui hal itu. Mendalami dan menyelaminya                                         adalah sesat. Karena Allah Ta’ala telah merahasiakan ilmu takdir dari makhluk-Nya dan melarang mereka untuk mencapainya. Allah Ta’ala berfirman, “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai .” (Al-Anbiyaa’: 23)

Ahlus Sunnah  wal Jama’ah berdialog dan berdebat dengan orang-orang yang menyelisihi mereka dari golongan-golongan sesat berlandaskan firman Allah Ta’ala, “….Katakanlah : Semuanya (datang ) dari sisi Allah.’ Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun ?”(An-Nisaa’ :78).

Inilah yang diimani oleh Salafush Shalih dari kalangan Sahabat, Tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari pembalasan, semoga Allah Ta’ala selalu meridhai mereka semuanya.

Sumber: Diadaptasi dari Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari, Al-Wajiiz fii Aqiidatis Salafis Shaalih (Ahlis Sunnah wal Jama’ah), atau Intisari Aqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah), terj. Farid bin Muhammad Bathathy(Pustaka Imam Syafi’i, cet.I), hlm.120 -130.