Copas dr blog http://nuris23.wordpress.com untuk pembelajaran pribadi.

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pada awalnya ilmu kalam lahir banyak persoalan yang timbul dikalangan masyarakat, karena itulah muncul berbagai pendapat dan pemikiran, sehingga terbentuk aliran-aliaran pemikiran para ulama. termasuk aliran teologi yang untuk menyelesaikan masalah-masalah kalam tersebut.

Salafiyah merupakan genre keagamaan dalam tradisi Islam klasik yang kini banyak hadir kembali di sejumlah negara muslim dengan spirit militansi yang luar biasa. Tak kecuali di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim di era keterbukaan pada saat ini.

Kehadiran kelompok Islam yang menisbahkan diri sebagai pengikut jejak generasi panutan pasca Nabi yang saleh (salaf al-shalih) itu, selain militan, tak jarang menampilkan corak keagamaan yang keras. Lebih-lebih ketika kelompok Islam lainnya yang serumpun juga bermunculan ke permukaan dengan tampilan keagamaan yang tak kalah keras dan militan.

Hal ini berdasarkan potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap manusia, baik berupa potensi biologis maupun psikologis dan terus berkembang untuk mencari nilai-nilai kebaikan. Ilmu kalam dengan perkembangannya menimbulkan permasalaan, kemudian berkembang menjadi beberapa aliran, hal ini disebabkan karena perbedaan-perbedaan yang dimulai oleh para ulama kalam.

Disini kita tidak akan mengklaim aliran yang mana benar, akan tetapi kita akan mengali lebih dalam tentang pemikiran-pemikiran yang mereka jalani, Aliran-aliran tersebut masing-masing mempunyai landasan yang dijadikan dasar mereka dalam ber-hujjah. Baik itu Al-Qur’an maupun Hadits.

Diantara aliran-aliran tersebut adalah aliran Salafiyah yang tokohnya Ibnu Hanbal dan Ibnu Taimiyah untuk lebih jelasnya kita akan mengkaji pemikiran-pemikiran ini dari awal. Sejarah, dan tokoh-tokoh serta pemikiran-pemikirannya, yang mereka yakini. dan tentunya kita harus bisa mengambil Ibrah dari berbagai hal yang positif darinya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Kata salaf secara bahasa bermakna orang yang telah terdahulu dalam ilmu, iman, keutamaan dan kebaikan. Berkata Ibnul Mandzur (Lisanul Arab 9/159): “Salaf juga berarti orang-orang yang mendahului kamu dari nenek moyang, orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu dan memiliki umur lebih serta keutamaan yang lebih banyak”. Oleh karena itu, generasi pertama dari Tabi’in dinamakan As-Salafush Shalih. Adapun secara istilah, maka dia adalah sifat pasti yang khusus untuk para sahabat ketika dimutlakkan dan yang selain mereka diikutsertakan karena mengikuti mereka. Al-Qalsyaany berkata dalam Tahrirul Maqaalah min Syarhir Risalah (q 36): As-Salaf Ash-Shalih adalah generasi pertama yang mendalam ilmunya lagi mengikuti petunjuk Rasulullah dan menjaga sunnahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih mereka untuk menegakkan agama-Nya dan meridhoi mereka sebagai imam-imam umat.

Adapun nisbat Salafiyah adalah nisbat kepada Salaf dan ini adalah penisbatan terpuji kepada manhaj yang benar dan bukanlah madzhab baru yang dibuat-buat. Salafiyah adalah sikap atau pendirian para ulama Islam yang mengacu kepada sikap atau pendirian yang dimiliki para ulama generasi salaf itu. Kata salafiyah sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘terdahulu’, yang maksudnya ialah orang terdahulu yang hidup semasa dengan Nabi Muhammad SAW, Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’in

Menurut Thablawi Mahmud Sa’ad, salaf artinya ulama terdahulu. Salaf terkadang untuk merujuk generasi sahabat, tabi’ tabi’in, para pemuka abad ketiga hijriah, dan para pengikutnya pada abad keempat yang terdiri dari atas para muhadditsin dan lainnya. Salaf berarti pula ulama-ulama saleh yang hidup pada tiga abad islam. Sedangkan menurut As-Syahrastani, ulama salaf adalah ulama yang tidak mengunakan ta’wil (dalam menafsirkan ayat-ayat mutasabihat) dan tidak mempunyai tasybih (anthropomorphisme). W. Montgomery watt menyatakan bahwa gerakan salafiyah berkembang pertama di bagdad pada abad ke-13.

A. Karakteristik Dan Perkembangan Salafiyah

1. Karakteristik ulama salaf

Ibrahim Madzkur (dar Al-ma’arif, Mesir. 1978 hlm 30) menguraikan karakteristik ulama salaf atau salafiyah sebagai berikut:

a. Mereka lebih mendahulukan riwayat (naql) dari pada dirayah (aql).

b. Dalam persoalan pokok-pokok agama (ushuluddin), dan persoalaan-pesoalan cabang agama (furu’ad-din), mereka hanya bertolak dari penjelasan Al-kitab dan As-sunah.

c. Mereka mengimani Allah tanpa perenungan lebih lanjut (tentang dzat-Nya) dan tidak pula mempunyai paham anthropomorphisme.

d. Mereka memahami ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan makna lahirnya, dan tidak berupaya menakwilkannya.

2. Perkembangan salafiyah di Indonesia

Perkembangan salafiyah di Indonesia di awali oleh gerakan-gerakan persatuan islam (persis), atau Muhammadiyah. Gerakan-gerakan lainnya, pada dasarnya juga dianggap sebagai gerakan ulama salaf, tetapi teologinya sudah di pengaruhi oleh pemikiran yang dikenal dengan istilah logika. Sementara itu, para ulama yang menyatakan diri mereka sebagai ulama salaf, mayoritas tidak menggunakan pemikiran dalam membicarakan masalah teologi (ketuhanan).

Dalam perkembangan berikutnya, sejarah mencatat bahwa salafiyah tumbuh dan berkembang pula menjadi aliran (mazhab) atau paham golongan, sebagaimana Khawarrij, Mu’tazilah, Maturidiyah, dan kelompok-kelompok Islam klasik lainnya. Salafiyah bahkan sering dilekatkan dengan ahl-sunnah wa al-jama’ah, di luar kelompok Syiah. Di bawah ini di jelaskan beberapa ulama salaf dengan metode dan beberapa tentang pemikirannya, terutama yang berkaitan dengan persoalan-persoalan kalam.

 

 

 

B. Tokoh-Tokoh Dan Pemikiran Ulama Salafiyah

1. Imam Ahmad bin Hanbali

Ibn Hanbal dilahirkan di Bagdad pada tahun 164 H/780 M, dan wafat 241 H/855 M. Ia semasa hidupnya dikenal sebagai orang zahid. Dalam memahami ayat-ayat Qur’an, Ibn Hanbal lebih suka menerapkan pendekatan lafzi (tekstual) dari pada pendekatan ta’wil, terutama yang berkaitan dengan sifat-sitat Tuhan dan ayat-ayat mutasyabihat.

Salah satu persoalan teologis yang dihadapi Ibn Hanbal adalah status Al-Qur’an. faham adanya qadim disamping tuhan, yang berarti menduakan tuhan, sedangkan menduakan tuhan adalah syirik dan dosa besar yang tidak diampuni tuhan. Ibn hanbal tidak sependapat dengan faham tersebut.

Ibn Hanbal hanya mengatakan bahwa Al-qur’an tidak diciptakan. Hal ini hanya sejalan dengan pola pikirnya yang menyerahkan ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat Allah kepada Allah dan rasul-Nya.

 

2. Ibn Taimiyah

Nama lengkap Ibn Taimiyah adalah Taqiyyuddin Ahmad bin Abi Al-Halim binTaimiyah. Dilahirkan di Harran pada hari senin tanggal 10 rabiul awwal tahun 661 H dan meninggal di penjara pada malam senin tanggal 20 Dzul Qaidah tahun 729 H. Kewafatannya telah menggetarkan dada seluruh penduduk Damaskus, Syam, dan Mesir, serta kaum muslimin pada umumnya. Ayahnya bernama Syihabuddin Abu Ahmad Abdul Halim bin Abdussalam Ibn Abdullah bin Taimiyah, seorang syekh, khatib dan hakim di kotanya.

Dikatakan oleh Ibrahim Madkur bahwa ibn Taimiyah merupakan seorang tokoh salaf yang ekstrim karena kurang memberikan ruang gerak leluasa kepada akal. Ia adalah murid yang muttaqi, wara, dan zuhud, serta seorang panglima dan penentang bangsa tartas yang berani. Selain itu ia dikenal sebagai seorang muhaddits mufassir, faqih, teolog, bahkan memiliki pengetahuan luas tentang filsafat. Ia telah mengkritik khalifah Umar dan khalifah Ali bin Abi Thalib. Ia juga menyerang Al-Ghazali dan Ibn Arabi. Kritikannya ditujukan pula pada kelompok-kelompok agama sehingga membangkitkan para ulama sezamannya. Berulangkali Ibn Taimiyah masuk kepenjara hanya karena bersengketa dengan para ulama sezamannya.

Pikiran-pikiran Ibn Taimiyah seperti dikatakan Ibrahim Madkur, adalah sebagai berikut:

a. sangat berpegang teguh pada nas (teks Al-Qur’an dan Al-Hadits)

b. tidak memberikan ruang gerak yang bebas kepada akal

c. berpendapat bahwa Al-Qur’an mengandung semua ilmu agama

d. didalam islam yang diteladani hanya tiga generasi saja (sahabat, tabi’in, dan tabi’i tabi’in)

e. Allah memiliki sifat yang tidak bertentangan dengan tauhid dan tetap mentanzihkan-Nya.

Ibn Taimiyah mengkritik Imam Hanbali dengan mengatakan bahwa kalaulah kalamullah itu qadim, kalamnya pasti qasim pula. Ibn Taimiyah adalah seorang tekstualis. Oleh sebab itu pandangannya dianggap oleh ulama mazhab Hanbal, Al-kitab Ibn Al-Jauzi sebagai pandangan tasybih (antropomorpisme) Allah, yakni menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Oleh karena itu, Al-Jauzi berpendapat bahwa pengakuan Ibn Taimiyah sebagai salaf perlu ditinjau kembali. Berikut ini merupakan pandangan Ibn Taimiyah tentang sifat-sifat Allah:

a. percaya sepenuh hati terhadap sifat-sifat Allah yang ia sendiri atau rasul-Nya menyifati

b. percaya sepenuhnya terhadap nama-nama-Nya, yang Allah atau Rasul-Nya sebutkan.

c. Menerima sepenuhnya sifat dan nama Allah.

 

 

 

 

C. Ajaran Aqidah Aliran Salaf

Salafiyah bukan sikap yang Apatis, Skeptis dan Pessimis, melainkan suatu kesadaran dan pengakuan akan adanya batas-batas kemampuan daya kerja akal manusia dan lapangannya dalam bidang metafisika, dan alam ghaib yang apabila dilampaui maka Ia akan sesat.

Aliran salaf telah membicarakan berbagai persoalan Teologi islam, seperti sifat-sifat Tuhan, perbuatan manusia, kemakhlukan Qur’an atau bukan, dan sifat-sifat atau ayat-ayat yang mengesankan penyerupaan (tasybih) Tuhan dengan manusia. Kesemuanya bisa digolongkan menjadi satu persoalan saja, yaitu “keesaan” (ketauhidan) yang mempunyai tiga segi, yaitu “keesaan dzat” dan “sifat”, “keesaan penciptaan” dan “keesaan ibadah” (pengabdian diri kepada tuhan). Masing-masing dari ketiga macam keesaan tersebut kiranya perlu dibicarakan.

Berikut ini merupakan pandangan Ibn Taimiyah tentang sifat-sifat Allah. percaya sepenuh hati terhadap sifat-sifat Allah yang ia sendiri atau Rosul-Nya menyimfati. Sifat-sifat yang dimaksud adalah:

1. sifat salbiyah, yaitu qidam, baqa, muhalafatu lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi, wahdanniyah.

2. sifat ma’nawi, yaitu qudrah, iradah, samea, bashar, hayat, ilmu, dan kalam.

3. sifat khabariah (sifat-sifat yang diterangkan Al-Qur’an dan Hadis walaupun akal bertanya tentangnya). Seperti keterangan yang menyatakan bahwa Allah dilangit; Allah diatas Arasy; Allah turun kelangit dunia; Allah dilihat oleh orang beriman diakhirat kelak; wajah, tangan dan mata Allah

4. Sifat dhafiah, meng-idhafat-kan atau menyandarkan nama-nama Allah pada alam makhluk, rabb al-amin, khaliq al-kaum. Dan falik al-habb wa al-nawa.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. kesimpulan

Kebenaran tidak diukur dengan orang, tetapi oranglah yang harus di imbang dengan kebenaran. Inilah timbangan yang benar. Meskipun kedudukan dan derajat seseorang dapat berpengaruh bagi diterimanya perkataannya, akan tetapi itu bukan tolak ukur kebenaran sama sekali.

Untuk memahami latar belakang perkembangan, pemikiran dalam masyarakat islam, tentu salah satu cara yang bias kita gunakan adalah dengan melihat materi-materi agama yang menjadi konsern umat islam. terutama semua materi yang menjadi konsern umat islam dinyatakan merujuk pada Al-Qur’an dan hadis.

Salaf bukanlah suatu “harakah”, bukan pula manhaj hizbi (fanatisme golongan), dan bukan pula manhaj yang mengajarkan taklid, kekerasan. Tetapi manhaj Salaf adalah ajaran Islam sesungguhnya yang dibawa oleh Nabi SAW dan difahami serta dijalankan oleh para salafush-shalih-radhiyalahu ‘anhum, yang ditokohi oleh para sahabat, kemudian oleh para Tabi’in dan selanjutnya Tabi’i Tabi’in.

Periodisasi ini kurang sempurna untuk membatasi pengertian salaf ketika kita lihat banyak dari kelompok-kelompok sesat telah muncul pada zaman-zaman tersebut, oleh karena itu keberadaan seseorang pada zaman tersebut tidaklah cukup untuk menghukum keberadaannnya di atas manhaj salaf kalau tidak sesuai dengan para sahabat dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah. Oleh karena itu para Ulama mengkaitkan istilah ini dengan As-Salaf Ash-Shalih. Dengan ini jelaslah bahwa istilah Salaf ketika dipakai tidaklah melihat kepada dahulunya zaman akan tetapi melihat kepada para sahabat Nabi dan yang mengikuti mereka dengan baik.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Abdullah amin, falsafah kalam, Pustaka pelajar, Yogyakara, 1995

Aceh Forum Community, Salafiyah dan perkembangannya, http://www.acehforum.or.id, 05/04/2008

Ahmas Faiz Asifuddin, Salafiyah Bukan Manhaj Hizbi, http://kautsaramru.blogs.friendster.com, 05/04/2008

Amal Taupik Adnan dan syamsu Rizal panggabean, tafsir dan kontektual Al-Qur’an: Sebuah Kerangka konseptual, Miza, Bandung, 1989

Dzahadi, Muhammad Husen, penyimpangan-penyimpangan dalam penafsiran Al-Qur’an, Rajawali press, Jakarta, 1978

Rozak abdul, anwar rosihon, ilmu kalam, CV Pustaka Setia, Bandung, 2007

Syaikh Abu Usamah Salim, Salaf Dan Salafiyah Secara Bahasa Istilah Dan Periodisasi Zaman, http://mki5ska.wordpress.com, 05/04/2008