Apakah mungkin jika kita percaya, menyembah dan taat kepada Tuhan tanpa memeluk salah satu agama tertentu? Tanpa sebuah status. Tanpa sebuah aturan yang mengikat. Tanpa perlu mendefinisikan Tuhan itu sendiri. Kita cukup percaya akan keberadaan-Nya. Menjalankan  hal-hal yang disepakati sebagai hal baik dan mulia sesuai norma positif di masyarakat.

Ada sebuah pertanyaan yang timbul dibenak saya, “ Memang kalau percaya kepada Tuhan = beragama?”  Apakah harus selalu seperti itu ? Tampaknya sih tidak. Ada yang berpendapat tanpa beragamapun kita tetap percaya kepada Tuhan. Meskipun pengertian dan bentuk Tuhan itu sendiri akan berbeda-beda

Seperti halnya kepercayaan Animisme dan Dinamisme yg pernah berkembang di tanah air merupakan suatu kepercayaan kepada Tuhan, namun tidak dapat dikatakan agama. Karena kepercayaan itu muncul begitu saja tanpa melalui ajaran dan konsep yg jelas melalui kitab suci dan yg memberitakan (pembawa ajaran). Misalnya menyembah kuburan, pohon2 besar, gunung, roh-roh nenek moyang dan lain sebagainya yg dilakukan secara turun temurun.

Menurut salah satu pendapat yang saya dengar, konsep ketuhanan = naluri manusia terhadap superioritas. Dimana seorang manusia dengan segala kelemahan dan kekurangannya membangun sebuah keyakinan untuk penguat dirinya, bahwa ada “sesuatu” yang maha segalanya dimana semua kesulitan bisa kita curahkan, dimana segala harapan dan keinginan bisa kita sampaikan untuk kemudian bisa diwujudkan.

Jadi, apakah konsep Tuhan dan Agama adalah dua hal yang berbeda ?

Jika pada masyarakat primitif “beragama” identik dengan paradigma “teosentris” atau “idol-sentris”, maka di zaman modern paradigma itu kita rubah menjadi “human-sentris”.

Dari ilmu Sosiologi-antropologi yg pernah saya baca bahwa, ada syarat sebuah kepercayaan dapat dikatakan/disebut agama, yaitu:
1. Adanya orang yg menyampaikan
2. Adanya kitab suci

Dan ketika kita memasuki wilayah agama, bisa kita bedakan pula agama berdasar pembentukan atau terciptanya suatu agama, yaitu :
1. Agama langit (Samawi) yg udah jelas disebutkan namanya seperti Islam, Nasrani, Yahudi dsb. Dimana Tuhan menyampaikan firmannya dalam kitab suci yang kemudian disampaikan oleh utusan-Nya.
2. Agama Budaya…termasuk didalamnya animisme & dinamisme…karena akar agama tsb tidak memenuhi syarat sebagai agama. karena konsep ketuhanan yg mereka anut tidak dirumuskan/didefinisikan melalui suatu aturan yg baku dalam suatu kitab suci yg ajarkan oleh seseorang.

Berikut pendapat beberapa pakar Sosiologi-Anthropologi mengenai agama :

Menurut Religion for Dummies, sebuah kepercayaan bisa disebut agama bila:
1. mempunyai kepercayaan
2. mempunyai aturan moral
3. mempunyai ritual

Menurut Émile Durkheim:
Seperangkat sistem keyakinan dan praktek yang diikatkan pada hal-hal yang sakral, atau bisa juga disebut, hal-hal yang disisihkan dan dilarang –keyakinan dan praktek-praktek ke dalam komunitas moral tunggal yang disebut Gereja
(catatan: dari latar belakangnya, yang dimaksud Gereja adalah instansi keagamaan tersebut, jadi jangan dipersempit menjadi tempat ibadah kristen)

Menurut Clifford Geertz:
(1) sistem simbol yang gunanya (2) membentuk mood dan motivasi-motivasi yang begitu kuat, melingkupi dan bertahan lama dalam diri manusia dengan (3)memformulasikan konsepsi-konsepsi tatanan umum eksistensi dan (4) menyelubungi konsep-konsep tersebut dengan semacam aura faktualitas sehingga (5)mood dan motivasi-motivasi secara unik dapat ditangkap sebagai sesuatu yang realistis

Menurut Daniel Bell:
Agama adalah jawaban-jawaban menyeluruh terhadap pertanyaan-pertanyaan inti eksistensial yang selalu dihadapi umat manusia, pengkodifikasian jawaban-jawaban ini ke dalam bentuk-bentuk kredo menjadi signifikan bagi para penganutnya, ritual dan upacara-upacaranya memberikan ikatan emosional bagi setiap individu yang melaksanakannya, dan pembentukan tubuh institusional membawa mereka yang sama-sama menganut kredo dan melaksanakan ritus dan upacara tersebut ke dalam kongregasi (jemaat), dan yang tak kalah pentingnya tubuh institusi mampu melanggengkan ritus-ritus tersebut dari generasi ke generasi.

(masih dari bukunya Turner)

Menurut Peter L. Berger:
Agama adalah daya upaya manusia yang dengannyalah yang sakral dibentuk. Atau dengan kata lain, agama adalah kosmisasi hal-hal yang sakral. Yang sakral di sini diartikan sebagai sebuah kualitas kekuatan yang misterius dan menggetarkan, yang bukan manusia namun berhubungan dengannya, yang dia yakini ada dan terdapat dalam obyek-obyek tertentu pengalamannya… Kosmos sakral dihadapi manusia sebagai realitas yang begitu kuat melebihi kemampuannya. Akan tetapi kekuatan ini mengalamatkan diri pada manusia dan manusia menempatkan dirinya di dalam sebuah tatanan yang penuh makna.

Menurut Wikipedia berbahasa Inggris:
It is commonly understood as a group of beliefs or attitudes concerning an object (real or imagined), person (real or imagined), or system of thought considered to be supernatural, sacred, or divine, and the moral codes, practices, values, institutions, and rituals associated with such belief or system of though
Artinya: “Biasanya dipahami sebagai sekelompok kepercayaan atau minat terhadap sebuah obyek (nyata atau imajinasi), seseorang (nyata atau imaginasi), atau sistem pemikiran yang dianggap sebagai supernatural, suci, atau ilahi, dan aturan-aturan moral, praktek-praktek, nilai-nilai, institusi-institusi, dan ritual yang diasosiasikan terhadap kepercayan atau sistem pemikiran tersebut.”

Ntar lage lanjutane,,,Liyeurrrr…