Bekerja merupakan salah satu bentuk apresiasi seseorang terhadap kemampuan dan potensi yang ada dalam dirinya. Tidak melulu soal pemenuhan kebutuhan material, seperti gaji yang kita terima entah tiap hari, minggu atau bulan. Lebih dari itu bekerja merupakan sebuah wadah dan sarana untuk pencapaian kepuasan.
Kepuasan kerja bisa kita artikan sebagai suatu keadaan emosional karyawan dimana terjadi atau tidak terjadi titk temu antara balas jasa karyawan dengan tingkat balas jasa perusahaan dalam bentuk baik finansial maupun non finansial.
Jika kita lebih dalam menggali tentang kepuasan kerja akan banyak kita dapat hubungan antara kepuasan kerja dengan disiplin, kepuasan dengan tingkat loyalitas, kepuasan dengan produktifitas, kepuasan dengan prestasi dan sebagainya. Inti dari semua hal yang diinginkan oleh sebuah perusahaan terhadap SDM nya sangat besar dipengaruhi oleh kepuasan para pekerja atau karyawan dari perusahaan itu. Dengan kata lain hasil yang dicapai oleh perusahaan akan berbanding lurus dengan tingkat kepuasan dari para pegawai yang mengawakinya.
Ada beberapa kepuasan yang hendak dicapai oleh seseorang ketika bekerja, diantaranya kepuasan finansial, kepuasan non finansial (psikologi, sosial, dan intelektual). Secara finansial bisa kita lihat dari gaji, kompensasi lembur,pemberian bonus atau insentif yang diterapkan oleh perusahaan. Secara psikologi keamanan, jaminan kepastian, apresiasi dan penghargaan. Sedangkan secara sosial, wibawa, kedudukan dan peningkatan status sosial, termasuk hubungan interaksi dengan bawahan,sesama rekan, maupun dengan atasan. Untuk perusahaan yang berhadapan dengan penyediaan servis publik, hubungan dengan pihak eksternal, pelanggan atau client juga merupakan hal yang ingin dicapai.
Dengan segala sifat unik yang dimiliki manusia akan sangat sulit memenuhi tingkat kepuasan ini termasuk juga mengukurnya. Ada berbagai macam teori motivasi untuk mendorong manusia mencapai apa yang menjadi tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan kita, bahwa kebanyakan orang bekerja karena dorongan uang, tapi kadang gagal untuk menaggapi sistem perangsang berupa uang dalam memotivasi. Ada juga orang yang dengan jelas ingin menggunakan kemampuan yang dimiliki, tetapi kadang menolak suatu pekerjaan yang jelas merupakan sebuah tantangan. Ada orang kehilangan motivasi dan perhatian dalam bekerja, tapi mutu yang dihasilkan ketika mereka melaksanakan sebuah pekerjaan tetap tinggi. Ada juga orang yang sudah tidak nyaman bekerja dan ingin keluar dari tempat kerjanya karena tidak sesuai dengan pengharapanya, akan tetapi mereka masih tetap bekerja ditempat sekarang. Ini menunjukkan bahwa sifat manusia sukar untuk dipelajari tetapi bisa untuk didekati.
Schein (1991) mengemukakan etntang sifat-sifat manusia dalam kaitan managerial sebagai berikut :
1. Asumsi Rasional – Ekonomi, dimana asumsi ini berasal dari falsafah hedonisme, bahwa orang bertindak untuk memenuhi kesenangan diri mereka semaksimal mungkin. Asumsi ini mengelompok kedalam 2 kelompok, yaitu kelompok yang tidak bisa dipercaya, bermotivasi uang dan bersifat kalkulatif serta satu kelompok lagi yang bisa dipercaya, bermotivasi lebih luas dan bermoral.
2. Asumsi Sosial, dimana berdasarkan pada teori Hawthome, kebutuhan untuk diterima dan disukai oleh teman sekerja dan lingkungan dia berada mungkin lebih penting dari perangsang ekonomi.
3. Asumsi Aktualisasi Diri, dimana sampai sejauhmana segala potensi, intelektual dan aspirasi bisa diakomodasi tempat dimana dia bekerja.
Oleh sebab itu, sebuah perusahaan jika ingin maju maka melalui fungsi organisasi HR (Human Resource) dan manager (CEO) harus mau memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan pekerja agar hasil yang dicapai oleh perusahaan positif.

B. BAGAIMANA MENCAPAI KEPUASAN KERJA
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mencapai kepuasan kerja, diluar apa yang bisa perusahaan berikan. Hal ini cenderung cara kita sebagai seorang individu untuk mencapai kepuasan, diantaranya :

1. Mulai dengan Sasaran Akhir. Tentukan sasaran akhir dari karya yang akan kita hasilkan. Sasaran akhir ini dapat kita jadikan pedoman dalam proses berkarya. Semakin jelas sasaran akhir kita, semakin mudah kita memilih strategi yang tepat untuk mewujudkannya. Sasaran akhir bisa dirinci lagi menjadi target-target yang lebih praktis (target tahunan, bulanan, mingguan, bahkan harian), agar setiap kegiatan yang kita lakukan untuk mewujudkan sasaran akhir tersebut bisa lebih terarah.
2. Cintai Pekerjaan. Setiap mahakarya dipersembahkan oleh orang yang mencintai pekerjaannya. Tanpa rasa cinta pada pekerjaan, tidak mungkin kita menyelesaikan pekerjaan kita. Rasa cinta pada pekerjaan juga merupakan pendorong yang kuat bagi kita ketika kita menghadapi berbagai tantangan dan hambatan dalam mewujudkan karya kita. Tanpa rasa cinta, kita akan cepat putus asa dan patah semangat untuk menyelesaikan karya tersebut. Rasa cinta juga memberikan semangat untuk melakukan yang terbaik. Dengan rasa cinta, kita rela merombak kembali dan memperbaiki hasil karya kita yang menurut kita belum memenuhi syarat kualitas yang telah kita tetapkan.
3. Berpikir Positif. Langkah yang dapat kita tempuh dalam menghadapi tantangan adalah berpikir positif. Dengan berpikir positif, kita akan melihat tantangan sebagai jalan untuk meningkatkan kualitas diri kita. Pepatah bijak dari Jepang sebagaimana dikutip dalam The Prentice Hall Encyclopedia of World Proverb menyebutkan, “Adversity is the foundation of virtue – Tantangan adalah dasar dari kebaikan. ” Artinya, kita akan dapat menjaga semangat kerja tetap tinggi dan menikmati pekerjaan dengan selalu berpikir positif.
4. Tingkatkan dan Update Kompetensi dan wawasan. Kenikmatan dalam menjalankan pekerjaan di antaranya dipacu oleh kemampuan yang kita miliki. Bila pekerjaan menuntut tingkat kemampuan tertentu, sementara kemampuan kita sendiri terbatas akan sangat mudah memicu suasana kerja yang menjemukan atau tidak menyenangkan. Alangkah baiknya jika kita selalu meningkatkan kemampuan, mengasah keahlian dan mengisi pikiran dengan informasi atau ilmu pengetahuan terbaru.
5. Sikap “go the extra miles” (melakukan lebih dari pada yang diharapkan) merupakan contoh penerapan rasa tuntas dalam pekerjaan. Sebagai contoh, jika kita diminta untuk menyampaikan undangan rapat ke para pemegang saham, kita tidak berhenti pada saat undangan selesai dikirimkan. Rasa tuntas menuntut kita untuk melakukan konfirmasi pada mereka yang diundang apakah mereka sudah terima undangan (berapa yang sudah terima dan berapa yang belum), dan apakah mereka bersedia untuk hadir (berapa yang bersedia dan berapa yang berhalangan untuk hadir). Jadi, ketika atasan yang memberi tugas menanyakan mengenai undangan tersebut, kita bisa memberikan informasi yang lengkap (bahwa undangan telah dikirimkan, semua undangan telah diterima dan 10 orang bersedia hadir, sedangkan dua orang berhalangan untuk hadir) karena telah melakukan tugas dengan tuntas.
6. Fokus pada Keunggulan Tertentu. Setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan. Memang ada juga orang yang memiliki berbagai kelebihan. Namun untuk tampil unggul dan memuaskan kita perlu memfokuskan pikiran, daya dan upaya kita pada satu keunggulan tertentu dan berusaha melakukan yang terbaik pada aspek tersebut.
Hal ini perlu dilakukan karena sebagai manusia tentunya kita memiliki berbagai keterbatasan: keterbatasan waktu pengerjaan, tenaga, pikiran, pengetahuan, dan sumber daya. Jadi, dengan memfokuskan pada keunggulan di bidang tertentu, kita juga bisa mengalokasikan lebih banyak perhatian, pemikiran, dan sumber daya yang bisa kita usahakan untuk menghasilkan karya terbaik di bidang yang kita pilih tersebut.
Masyarakat pengguna jasa kita juga memiliki keterbatasan dalam mengingat-ingat keunggulan kita (jika keunggulan kita terlalu banyak). Untuk menunjang kualitas di bidang lainnya, bisa kita sinergikan dengan orang lain ataupun pihak lain untuk mencapai solusi menang-menang (win-win solution).
Semoga dengan segala keterbatasan yang ada, kepuasan dalam bekerja selalu bisa kita raih dengan optimal agar kreatifitas dan produktifitas kita tetap terjaga.